Opini
Para Koruptor Itu Sebenarnya Siapa ?
Tulisan singkat ini saya buat, dengan maksud mengajak, bersama-sama melihat secara jernih, hati-hati, dan sungguh-sungguh, siapa sebenarnya para koruptor itu. Jawaban ini penting diketahui, agar tidak ada pihak-pihak yang sebenarnya benar tetapi disalahkan dan atau sebaliknya, salah tetapi selalu dibenarkan. Dengan mengetahui latar belakang pelaku koruptor itu, maka tidak terjadi anggapan yang salah, dan begitu pula peta dan pelaku koruptor itu menjadi jelas.
Membangun Kekuatan Ekonomi Masjid
Oleh: Ichwan
Sebagaimana telah diketahui bersama, mesjid adalah pusat ibadah umat Islam. Jika kita menilik pada shirah Rasulullah SAW, maka kita akan menemukan fakta bahwa mesjid memiliki peran yang sangat vital dan signifikan dalam pengembangan dakwah Islam. Rasulullah menjadikan mesjid sebagai sentra utama seluruh aktivitas keumatan, apakah itu dalam aspek tarbiyah (pembinaan) para sahabat, pembentukan karakter para sahabat sehingga mereka memiliki keimanan dan ketakwaan yang sangat kokoh kepada Allah SWT, maupun aspek-aspek lainnya termasuk politik, strategi perang, hingga pada bidang ekonomi, hukum, sosial dan budaya. Pendeknya, mesjid menjadi pusat utama ibadah umat Islam, dari mulai ibadah mahdlah yang bersifat ritual hingga ibadah muamalah yang bersifat sosial. Pada kesempatan ini, penulis bermaksud memfokuskan pada upaya membangun kekuatan ekonomi mesjid.
Mewaspadai Bahaya Korupsi
Oleh: Abu Humaid Arif Syarifuddin
Dari Adiy bin Amirah Al-Kindi Radhiyallahu ‘anhu berkata : Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.“Barangsiapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan (urusan), lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau lebih dari itu, maka itu adalah ghulul (harta korupsi) yang akan dia bawa pada hari kiamat”
Seri Akhlak Ekonomi Islam: Time Value of Good Deeds
Oleh: Ali Sakti
Seorang kawan yang sekaligus pakar ekonomi mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan time value of money adalah: "People will prefer current consumption over future consumption with the same amount" or" if people have alternative of consuming X now, he will only choose consumption in the future unless the consumption is (1+R)X where R is his/her rate o ftime preference". Ini inti dari konsep time preference, dan ini esensi dari istilah "time value of money" atau "economic value of time" dalam economics.
Gaya Hidup
Ali Sakti
Subuh tadi selepas shalat, terlintas dalam fikiran saya tentang kelaziman prilaku kebanyakan orang khususnya para profesional muda. Budaya akrab dengan handphone telah menjadi rutinitas mereka baik saat sibuk maupun ketika mereka sendirian. Lihat saja dipinggir-pinggir jalan, di dalam bus, di meja kantornya, di belakang stir mobilnya, di halte bis, di mana-mana, semua asyik utak-utik handphone mereka. Budaya modern ini 10 – 15 tahun yang lalu tidak pernah ada. Mengapa ini pantas untuk dibahas?
Page 1 of 22
Opini






