Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo
Berikut ini, saya hanya berandai-andai, membayangkan dan sebatas berkhayal, andaikan bisa berguru langsung kepada Nabi. Tentu hal itu tidak akan mungkin terjadi. Rasulullah sudah wafat sejak sekitar 1400 tahun yang lalu. Orang mulia, tidak punya dosa, dan sangat dicintai oleh Allah swt., juga bukan orang Indonesia, tetapi lahir di Makah, bermukim di Makah dan kemudian hijrah ke Madinah. Rasul terakhir ini wafat di Madinah, setelah berjuang menyampaikan misi kerasulannya dan berhasil membangun masyarakat di sana.
Opini
Sepenggal Hikmah Tentang Hidup
Ali Sakti
Sudah lama ingin saya kisahkan kembali sebuah cerita sederhana tentang sebuah hakikat kerja atau barangkali hakikat ekonomi. Kisah ini saya baca puluhan tahun lalu ketika masih di sekolah dasar dari sebuah majalah anak-anak yang langganankan orang tua, kalau tidak salah majalah “Ananda”. Saya kurang tahu apakah majalah itu masih beredar saat ini. saya sudah tidak ingat siapa penulis dari cerita ini. semoga beliau ikhlas saya cerita ulangkan kisah mulia penuh hikmah ini. Dan semoga beliau mendapat ridha Allah atas cerita ini.
Read more...
Sudah lama ingin saya kisahkan kembali sebuah cerita sederhana tentang sebuah hakikat kerja atau barangkali hakikat ekonomi. Kisah ini saya baca puluhan tahun lalu ketika masih di sekolah dasar dari sebuah majalah anak-anak yang langganankan orang tua, kalau tidak salah majalah “Ananda”. Saya kurang tahu apakah majalah itu masih beredar saat ini. saya sudah tidak ingat siapa penulis dari cerita ini. semoga beliau ikhlas saya cerita ulangkan kisah mulia penuh hikmah ini. Dan semoga beliau mendapat ridha Allah atas cerita ini.
Bertauhid di Tengah Hidup Berdagang
Oleh: Muhammad Damami
Seperti diketahui, agama Islam lahir di tengah masyarakat dagang di kota Makkah. Suku Quraisy yang menjadi suku Nabi Muhammad Saw adalah terkenal sebagai suku pedagang. Suku ini bukan sekedar pedagang mukim atau pedagang yang bertempat di suatu tempat saja, melainkan justru menjadi pedagang perantau yang bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam Al-Qur’an kebiasaan berdagang suku Quraisy seperti itu telah disitir sebagai berikut (Q.S. Quraisy [106] : 1-2) yang artinya: “ sebab kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas). Dalam bahasa teknis sekarang, suku Quraisy secara tak langsung telah mengenal kebiasaan mendatangkan barang (import) dan mengirim barang (eksport). Secara tak langsung pula mereka telah melakukan kegiatan hubungan dagang internasional. Sebab, mereka pada musim dingin (asy-syitaa’) pergi ke wilayah Yaman untuk mengambil barang dagangan (kain sutra, benda pecah-belah, rempah-rempah, bahan kapur barus) untuk kemudian dikirim ke wilayah Syam (Syria sekarang) pada musim panas (ash-shaif) untuk dijual di sana. Demikian pula sebaliknya, mereka mengambil dagangan (gandum untuk bahan membuat roti dan buah-buahan) dari Syam kemudian dibawa ke Yaman untuk di jual di sana. Kota Makkah yang menjadi tempat tinggal suku Quraisy dijadikan semacam kota transito (lintasan dagang). Yang jelas, kebiasaan suku Quraisy dan suku-suku lain di kota Makkah tersebut adalah dunia dagang yang paling utama, baru setelah itu didukung oleh kebiasaan beternak (unta, domba, sebagian kecil kuda) dan pertanian (kurma).
Read more...
Seperti diketahui, agama Islam lahir di tengah masyarakat dagang di kota Makkah. Suku Quraisy yang menjadi suku Nabi Muhammad Saw adalah terkenal sebagai suku pedagang. Suku ini bukan sekedar pedagang mukim atau pedagang yang bertempat di suatu tempat saja, melainkan justru menjadi pedagang perantau yang bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam Al-Qur’an kebiasaan berdagang suku Quraisy seperti itu telah disitir sebagai berikut (Q.S. Quraisy [106] : 1-2) yang artinya: “ sebab kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas). Dalam bahasa teknis sekarang, suku Quraisy secara tak langsung telah mengenal kebiasaan mendatangkan barang (import) dan mengirim barang (eksport). Secara tak langsung pula mereka telah melakukan kegiatan hubungan dagang internasional. Sebab, mereka pada musim dingin (asy-syitaa’) pergi ke wilayah Yaman untuk mengambil barang dagangan (kain sutra, benda pecah-belah, rempah-rempah, bahan kapur barus) untuk kemudian dikirim ke wilayah Syam (Syria sekarang) pada musim panas (ash-shaif) untuk dijual di sana. Demikian pula sebaliknya, mereka mengambil dagangan (gandum untuk bahan membuat roti dan buah-buahan) dari Syam kemudian dibawa ke Yaman untuk di jual di sana. Kota Makkah yang menjadi tempat tinggal suku Quraisy dijadikan semacam kota transito (lintasan dagang). Yang jelas, kebiasaan suku Quraisy dan suku-suku lain di kota Makkah tersebut adalah dunia dagang yang paling utama, baru setelah itu didukung oleh kebiasaan beternak (unta, domba, sebagian kecil kuda) dan pertanian (kurma).
Mentalitas Bisnis Umat Islam
Drs. M. Fahri
Ketika gagal dan kurang berhasil dalam bisnis. Ungkapan yang seringkali muncul adalah; kurangnya modal, tidak berbakat, tidak ada darah pedagang, kurang pengalaman, dan tak ada keberpihakan pemerintah pada umat. Ungkapan-ungkapan ini tidak lebih dari sekedar mencari-cari alasan pembenaran atas ketidakmampuan dalam berbisnis. Padahal ikhtiarnya belum maksimal. Akibatnya mudah putus asa, cepat menyerah, dan suka menyalahkan pihak lain. Pendek kata kurang militan dalam berbisnis.
Para Koruptor Itu Sebenarnya Siapa ?
Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo
Tulisan singkat ini saya buat, dengan maksud mengajak, bersama-sama melihat secara jernih, hati-hati, dan sungguh-sungguh, siapa sebenarnya para koruptor itu. Jawaban ini penting diketahui, agar tidak ada pihak-pihak yang sebenarnya benar tetapi disalahkan dan atau sebaliknya, salah tetapi selalu dibenarkan. Dengan mengetahui latar belakang pelaku koruptor itu, maka tidak terjadi anggapan yang salah, dan begitu pula peta dan pelaku koruptor itu menjadi jelas.
Read more...
Tulisan singkat ini saya buat, dengan maksud mengajak, bersama-sama melihat secara jernih, hati-hati, dan sungguh-sungguh, siapa sebenarnya para koruptor itu. Jawaban ini penting diketahui, agar tidak ada pihak-pihak yang sebenarnya benar tetapi disalahkan dan atau sebaliknya, salah tetapi selalu dibenarkan. Dengan mengetahui latar belakang pelaku koruptor itu, maka tidak terjadi anggapan yang salah, dan begitu pula peta dan pelaku koruptor itu menjadi jelas.
Page 1 of 24
Opini







