Jakarta, (03/02). Meski dengan jumlah asset yang relative masih kecil, sebesar Rp 66 triliun, tapi bank syariah lebih mampu mendayagunakan total asset yang dimilikinya. Bank syariah telah berfungsi secara baik memanfaatkan assetnya.
Hal ini diungkapkan oleh Sekjend Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Bambang Sutrisno di Jakarta.
Melihat dari kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) bank syariah saat ini di angka 11.17 persen maka pemanfaatan modal di bank syariah lebih optimal di banding perbankan konvensional dengan CAR sebesar 17.08 persen. Sementara, selama lima tahun terakhir pertumbuhan modal bank syariah rata-rata sebesar 24.61 persen.
Namun, menurut Bambang, hal tersebut masih belum mampu menarik pertumbuhan modal bank syariah meningkat lebih cepat, sehingga kapasitas berkembang bank syariah masih terbatas.
Dengan modal yang masih relatif kecil berpengaruh terhadap perkembangan perbankan syariah. Sutrisno mengatakan, untuk mencapai asset sebesar Rp 100 triliun dibutuhkan injeksi modal sebesar 156 persen dari modal yang ada saat ini, yaitu dibutuhkan injeksi modal hingga Rp 5 triliun.
“Kecilnya modal yang dimiliki ini menjadi permasalahan tersendiri bagi bank syariah, sehingga geraknya cukup terbatas,” ujar Bambang. “Beda jika modalnya besar, pasti bank syariah bisa lebih banyak berbuat, dan tentunya dapat berkembang lebih cepat,” tambahnya.[r]







